Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah membawa perubahan signifikan pada perpustakaan, menjadikannya lebih modern dan efisien dengan bantuan chatbot referensi, katalog pintar, dan analisis data yang mempercepat akses informasi. Otomatisasi tugas-tugas rutin juga membebaskan pustakawan dari pekerjaan administratif, memungkinkan mereka fokus pada pelayanan yang lebih personal.

Namun, transformasi digital ini menghadirkan tantangan baru, seperti potensi bias algoritma yang dapat memengaruhi hasil pencarian, ancaman terhadap privasi data pengguna, serta kesenjangan digital antara pengunjung yang melek teknologi dan yang belum. Dalam konteks ini, peran pustakawan justru semakin vital sebagai pendamping literasi digital yang membantu pengunjung menilai kredibilitas informasi dan mengajarkan literasi kritis, fasilitator diskusi yang menciptakan ruang belajar inklusif, serta penjaga etika dan privasi yang mengedukasi penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Dini Suryani, pustakawan dan penggiat literasi digital, menegaskan bahwa AI ibarat mesin pencari, sementara pustakawan adalah kompas yang menuntun pengunjung menafsirkan makna dan membangun empati. Rika Handayani, dosen Ilmu Perpustakaan, menambahkan pentingnya kolaborasi antara teknologi dan pustakawan untuk menciptakan perpustakaan yang tidak hanya canggih, tetapi juga humanis dan kontekstual.

Dengan demikian, perpustakaan kini bertransformasi menjadi ruang hidup yang adaptif dan penuh nilai kemanusiaan, di mana AI dan pustakawan berjalan beriringan menjaga nyala pengetahuan dan semangat belajar bersama. Modernisasi perpustakaan dengan AI bukan sekadar soal efisiensi, melainkan tentang menciptakan ruang yang aman, inklusif, dan humanis, tempat teknologi dan manusia saling melengkapi demi kemajuan literasi dan pengetahuan.

Leave a comment